Buletin IRMAIBA Edisi Isra’ Mi’raj 1436 H

Advertisements

Buletin Jumat – edisi SABAR

SATU CARA DICINTAI ALLAH
Ada satu amalan yang mana jika amalan ini dilakukan maka Allah akan menyertai dan mencintai kita, amalan ini mudah dikatakan tetapi sulit untuk dikerjakan, amalan itu adalah “Sabar” pertanyannya sabar seperti apa dan sabar terhadap siapa saja yang bisa di cintai oleh Allah ?

1. Sabar Terhadap Kewajiban Yang Telah Di Bebankan Kepada Manusia
Sabar yang perlu diperhatikan yaitu berkaitan dengan ibadah yang telah dibebankan oleh Allah kepada kita dan yang senantiasa melakukannya, sehingga kita ikhlas untuk melakukan semua perintahNya

2. Sabar Terhadap Godaan Manusia
Hal ini banyak orang yang tidak sabar bahkan akhir – akhir ini sering terjadi, contoh kecilnya, tetangga yang sering meminjam barang, atau harta dan bahkan sering mangambil hak kita, bisa membuat kita emosi sehingga terjadi pembunuhan, dan perkelahian.

3. Sabar Terhadap Keadaan
Sabar terhadap keadaan ini sangat penting untuk diperhatikan karna banyak manusia yang bunuh diri karena keadaannya yang tidak memungkinkan seperti malu mendapatkan cacian yang diakibatkan sendiri maupun fitnah, tidak kuat menerima kecacatan pada diri, dan masih banyak hal negatif lainnya diakibatkan tidak sabar terhadap keadaan

4. Sabar Terhadap Kefakiran
Banyak manusia tidak sabar akan kefakiran sehingga kekurangan yang ada pada dirinya itu mendorong dirinya untuk melakukan kriminal.

Dengan demikian apakah kita sudah sabar, sehingga pantas untuk dicintai oleh Allah ataukah masih jauh untuk mendapatkan cinta Allah?

1-4 _ FIX_Buletin Jumat_edisi SABAR

2-3 _ FIX_Buletin Jumat_edisi SABAR

Buletin Jumat – edisi LAA TAHZAN (jangan bersedih)

“Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut.”

-Umar bin Khattab-

Buletin Jumat _ edisi LAA TAHZAN.pdf

1_Buletin Jumat_edisi Laa Tahzan 2_Buletin Jumat_edisi Laa Tahzan 3_Buletin Jumat_edisi Laa Tahzan 4_Buletin Jumat_edisi Laa Tahzan

———————————————————————-

Bersedih ??????? gak lah

“….. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”(QS. Al Anbiya’;35)

Setiap manusia yang hidup di dunia tidak akan pernah terlepas dengan ujian, baik ujian kebahagian atau ujian kesengsaraan karena dunia ini adalah permainan dan permainan itu pasti sementara.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.Al Ankabut:2)

Maka dari itu kita harus belajar mengurangi kesedihan yang ada pada diri kita bagaimanapun kondisi dan situasinya, berfikirlah positif karena kesedihan itu merugikan diri dari segala aspek, banyak orang yang bersedih ketika keinginannya tidak terlaksana, padahal itulah yang terbaik baginya.

Berfikirlah tujuan hidup itu hanyalah beribadah untuk meraih kebahagian yang haqiqi dan berfikirlah bahwa kesedihan yang diakibatkan oleh dunia dan seisinya hanyalah fana. Banyak para Nabi, Sahabat, Tabi’in dan cendikiawan muslim yang kondisi dan situasinya tidak memungkinkan entah karna sakit bertahun – tahun, cacat, miskin, dihina (baik orang lain maupun keluarganya), tetapi mereka tidak bersedih karena mereka mengetahui semua penderitaan yang dialaminya bukanlah selamanya, mereka hanya sibuk beribadah untuk bekal kehidupan yang lebih lama dari pada dunia yaitu akhirat.